Pagi ini Arita bersiap untuk pergi ke sekolah baru. Arita beserta
keluarga pindah dari kota yang padat ke sebuah desa kecil yang sejuk dan jauh
dari polusi asap kendaraan bermotor. Jarak sekolah dari rumah tidak terlalu
jauh, dan Arita berjalan kaki dengan santai ke sekolah. Arita berharap bertemu
dengan teman yang baik di sekolah nanti.
Saat masuk ke kelas, Arita
memperkenalkan diri dan mulai mengikuti pelajaran. Arita merasakan perbedaan
antara sekolah di kota dan sekolah di desa. Teman-teman di desa lebih ramah
saat menyambutnya. Arita duduk di tempatnya dan mulai mengerjakan soal yang
diberikan. Pelajaran lebih banyak dilewati dengan canda dan tawa, siswa sama
sekali tidak merasa tegang. Arita sudah merasa akrab di hari pertama ini.
Waktu istirahat, Arita
lebih memilih untuk berada di kelas. Tak disangka, ternyata teman-teman lebih
memilih untuk keluar kelas. Saat Arita pikir ia sendirian di dalam kelas, Arita
melihat satu siswa yang duduk di baris belakang sedang melukis. Arita pun
mendekatinya.
“Hai, aku Arita. Siapa
namamu?” Ujar Arita ramah.
Dia menoleh pada Arita,
dan memandanginya sebentar dari balik kacamatanya.
“Hai, namaku Sofi.
Salam kenal, Arita.” Jawabnya dengan tersenyum.
Merekapun berjabat
tangan, lalu berbicara tentang kesukaan serta hobi masing-masing.
“Hobiku dari kecil
adalah melukis. Aku lupa bagaimana awalnya aku bisa melukis, namun sampai
sekarang aku menyukainya.” Ujar Sofi sambil memainkan kuas pada jemarinya.
“Aku juga suka
melukis, aku belajar melukis dari kakakku yang seorang seniman. Apa yang sedang
kamu lukis itu, Sofi?” Tanya Arita penasaran.
“Oh, aku sedang
melukis untuk lomba nanti. Apa kamu mau ikut lombanya juga, Arita? Kalau kamu
mau, akan kudaftarkan nanti.” Kata Sofi sambil menunjukkan brosur lomba
melukis.
Arita mengambil brosur
itu, lalu membacanya sebentar.
“Ah, aku mau ikut.
Tolong daftarkan aku, Sofi. Terima kasih, ya! Ngomong-ngomong, bagaimana kalau
kita melukis bersama untuk lomba tersebut? Menurutku kamu punya banyak
pengalaman melukis yang tidak aku miliki.” Ajak Arita semangat.
Sofi terdiam untuk beberapa
saat, lalu kemudian menjawab.
“Baiklah. Aku tunggu
besok di halaman sekolah pukul 10.00”
“Aku pasti datang.”
Bel masuk berbunyi,
dan mereka mengakhiri perbincangan.
Keesokan harinya,
Arita telah bersiap-siap untuk bertemu Sofi. Arita bangun pagi-pagi dan datang
ke sekolah pukul 09.00, satu jam sebelum janji dimulai. Arita memandangi alam
sekitar sekolah mereka, yang benar-benar nyaman dan sejuk. “Berbeda sekali
dengan udara di kota.” Pikirnya. Saat jam telah menunjukkan pukul 10.00, Arita
tambah bersemangat untuk melukis bersama. Arita masih menunggu Sofi. Setelah
lama menunggu, Arita mulai bosan. Ia melihat jam yang telah menunjukkan pukul
13.00, Arita hampir putus asa, ia menggoreskan kuasnya sedikit demi sedikit
pada lembaran kertas, berharap Sofi datang sebelum lukisannya itu selesai. Namun
sampai lukisannya selesaipun, Sofi tak kunjung datang. Arita resah karena jam
telah menunjukkan pukul 16.00, lalu karena tidak tahan menunggu, ia pulang ke
rumahnya.
Esoknya di sekolah,
Arita segera menemui Sofi.
“Sofi, kenapa kamu
tidak datang kemarin? Aku menunggumu sampai hari senja, namun kamu tidak
kunjung datang. Karena aku lelah, aku pun pulang.” Ujar Arita.
“Ah, maafkan aku
Arita. Aku lupa dengan janji itu. Aku pergi ke toko buku kemarin. Aku
memerlukan beberapa buku untuk tugas sinopsis beberapa hari yang lalu. Maafkan
aku, aku sungguh menyesal.” Jawab Sofi dengan sedih.
“Lukisanku sudah aku
kirimkan... bagaimana denganmu, Sofi?”
“Aku sudah
mengirimkannya beberapa hari yang lalu. Maafkan aku tidak memberitahumu.” Sofi
menjabat tangan Arita.
“Tidak apa-apa, Sofi.”
Jawab Arita.
“Saat istirahat nanti,
kita lihat pengumumannya bersama, ya. Aku tidak mau kalau hanya sendirian.”
Kata Sofi sambil tersenyum.
“Baiklah, aku juga
tidak suka sendirian.”
“Ya... kita berdua
memang cocok, ya!” Sofi tertawa.
“Kupikir juga begitu.”
Arita menjawab sambil tersenyum.
Saat jam istirahat,
Arita dan Sofi melihat ke papan pengumuman pemenang yang berada di belakang
ruang kelas mereka. Nama mereka tidak tercantum di sana. Bukannya sedih, mereka
malah tertawa bersama, sambil berkata...
“Tiada akhir untuk
perjuangan bersama sahabat!”
“Kisah persahabatan
ini belum berakhir, namun baru saja dimulai.” Arita berkata senang.
“Aku setuju denganmu,
Arita. Nah, lomba lukis mana lagi yang ingin kita ikuti?” Tanya Sofi.
“Yang mana saja, yang
penting bersama sahabatku.” Jawab Arita sambil tertawa.
“Kau benar, Arita!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar